Kehidupan masyarakat Indonesia sejak dulu memiliki tradisi yang tidak bisa lepas hingga sekarang. Tradisi yang sudah menjadi dasar bagi setiap individu di setiap sudut wilayah kita menjadi suatu kebanggan yang tidak bisa kita lupakan. Kita memiliki motto yaitu “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Suatu motto yang pasti setiap orang tahu apa arti dan maksudnya yang sejak dahulu kala sudah menjadi tongkat peradaban dalam pembangunan negara kita hingga sekarang.
Negara kita memiliki banyak cita-cita yang selalu dipegang teguh dalam melakukan aktivitas setiap harinya. Mulai dari rutinitas pribadi dan kegiatan masyarakat bersama dan biasanya kegiatan bersama selalu dilakukan secara gotong royong dan bersama-sama. Tujuanya satu yaitu untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Tak hanya memberikan dampak positif di setiap kegiatan, juga menjadi landasan dalam bermasyarakat. Inilah yang selalu bisa kita banggakan dengan kemampuan yang selalu tidak dimiliki bangsa lain selain kita. Tak hanya itu bangsa lain sering iri dengan kegiatan gotong royong yang sejak dulu sudah ada di Indonesia. Dengan selalu mengutamakan bekerja sama dengan bantuan orang lain akan membuat pekerjaan yang kita kerjakan lebih cepat diselesaikan.
Hampir diseluruh pelosok tanah air kita selalu menjujung tinggi kebersamaan dengan tidak idividual dalam melakukan kegiatan baik itu yang besar maupun kecil. Kesadaran akan pentingnya suatu kolaborasi diantara sesama menjadikan suatu hal yang kita lakukan positif dan lebih tinggi sehingga berakar hingga ke anak cucu yang lebih stabil dan menjanjikan kelak. Jadi, kegiatan selalu dilakukan dalam rangka saling membantu antara satu dengan yang lain. Hal ini lah yang menjadi tradisi bagi beberapa kebudayaan di nusantara terutama di adat suku Batak.
Kegiatan gotong royong tak jauh berbeda dengan konsep masyarakat suku Batak yang sering disebut marsiadapari. Tradisi yang sering dilakukan masyarakat suku Batak ketika musim panen dan marsuan atau menanam padi tiba. Kegiatan marsiadapari dalam kegiatan sehari-hari yaitu tindakan tolong-menolong, bantu-membantu atau bekerja bersama-sama. Kegiatan gotong royong suku Batak ini sudah sejak dahulu kala dilakukan. Melalui tradisi tersendiri dalam mengerjakan pekerjaan yang sifatnya umum dan mempunyai kesamaan bagi masyarakat disekitar kampung atau komunitas suku Batak. Dalam jangkauan luas, marsiadapari merupakan rutinitas yang wajib yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan hasil kerja yang memuaskan dan lebih baik. Hal inilah yang dimana kegiatan gotong royong yang tidak pernah luntur dari kehidupan bermasyarakat dalam komunitas adat suku Batak.
Marsiadapari memang sudah dilakukan oleh para pemuka adat suku Batak dan menjadi sesuatu yang sangat berharga warisan leluhur kita. Kegiatan ini sifatnya meringankan pekerjaan dengan sistem bersama-sama. Caranya juga unik dan menarik untuk dipahami. Contohnya saja dalam acara panen hasil kerja seperti padi. Sistemnya kerjanya secara bersama mengerjakan sawah atau ladang salah satu warga hingga selesai secara serentak demikian terus menerus hingga seluruh sawah yang hendak panen mendapatkan giliran. Tidak ada yang menuntut gaji atau upah, namun tenaga yang berganti diladang atau sawah yang dimiliki. Akhirnya pekerjaan pun tuntas.
Sering kita bertanya mengapa marsiadapari menjadi suatu kegiatan yang selalu dijaga dan tak pernah dilupakan suku Batak. Salah satu alasan yang paling tepat adalah bahwasanya dikampung mempunyai kegiatan yang sama, yakni bekerja sebagai petani, disawah dan ladang. Kegiatan bersama dan senasib yang sama membuat sikap tolong-menolong lebih diajarkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya dikota kegiatan marsiadapari jarang dan bahkan tidak pernah dilakukan dikarenakan penduduk kota lebih beragam dan tempat yang berjarak dari rumah dan membuat interaksi antara setiap individu semakin jarang antara satu dengan lain.
Namun, kita tak perlu berbangga terutama suku Batak. Perlu suatu perenungan yang mendalam tak hanya menjadikan kita malu terhadap kenyatan yang dimana kita sering melupakan adat kita. Orang muda yang semakin jauh dari tradisi adat, yang sesungguhnya bisa menjadi peganggan dalam hidup kita. Sikap kebersamaan yang saat ini mulai menipis baik itu di desa maupun di tanah rantau orang lain. Sering kita melupakan adat marsiadapari yang pada akhirnya hanya karena gengsi dan kemunafikan yang menghilangkan rasa tolong-menolong yang selalu dipinggirkan.
Mulai Memudar
Dengan keunikan dan kegiatan yang penuh tanggungjawab ini, sering sebuah tradisi seperti ini hanya sampai generasi tertentu saja. Sangat disayangkan marsiadapari sudah mulai memudar. Memudarnya kegiatan marsiadapari bukan hanya bagi mereka yang tinggal di kota saja, namun saat ini kegiatan ini jarang kita temui di daerah asal atau desa suku Batak. Ya, sangat disayangkan walaupun memang masih ada kita temui di beberapa daerah-daerah tertentu yang tetap mempertahankan eksistensi dari suatu tradisi suku Batak yang sangat berguna ini.
Ketidakmampuan suatu generasi dalam mewariskan bagi kaum muda sering membuat kegagalan dalam mempertahankan tradisi marsiadapari ini. Tidak hanya itu, kemajuan zaman dan teknologi yang selalu mengutamakan diri sendiri atau individual membuat banyak anak muda lebih senang dengan kemampuan pribadi dengan kecongkaan yang pada akhirnya menimbulkan masalah yaitu hasil buruk yang diperoleh.
Ingat Tradisi
Perlu suatu tindakan yang bisa kita lakukan demi menjaga suatu tradisi seperti ini. Marsiadapari seharusnya bisa kita terjemahkan pada kondisi saat ini dalam bentuk konteks lebih modren. Kita harus lebih mengingat dan menjalankan tradisi kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika suku Batak dulu menggunakan marsiadapari untuk kegiatan tolong-menolong pada pesta adat, panen dan berladang, maka bisa kita praktekkan dalam konteks masyarakat yang lebih luas. Artinya, ini tidak hanya kita lakukan sesama suku Batak saja, namun seluruh lapisan masyarakat dengan suku budaya yang beragam.
Keberagaman inilah yang perlu dijaga keutuhanya dengan tindakan marsiadapari seperti yang dilakukan suku Batak. Mempunyai sikap solidaritas antarwarga dan sesama. Karena pada prinsip marsiadapari adalah mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab demikian juga kita hidup dalam kebersamaan dalam perbedaan di dalam bangsa kita Indonesia. Hingga pada akhirnya marsiadapari atau gotong royong dapat menjadi dasar kita dalam memperoleh hasil yang lebih baik demi memajukan bangsa kedepanya.
0 Komentar