Beberapa waktu belakangan ini kita dikabarkan dengan
pemberitaan air Danau Toba yang semain hari semain tercemar. Menurut
pemberitaan salah satu Surat Kabar Medan Senin, 20 Pebruari 2016 lingkungan Danau
Toba ditemukan lintah yang menempel di bebatuan dan terdapat juga di air.
Lintah adalah hewan yang termasuk dalam Filum
Annelida subkelas Hirudinea. Hewan ini termasuk yang bisa hidup yang di daratan, air tawar dan
air laut. Termasuk perairan tercemar dan kotor. Semua spesis lintah adalah
karnivora termasuk yang ditemukan di perairan Danau Toba. Penemuan lintah di
danau ini diperparah dengan ditemukannya kutu air. Tidak hanya itu ternyata
penemuan kutu air dan lintah ini sudah ada sejak awal tahun 2012. Dua jenis
spesies ini sangat mudah berkembang di daerah yang kotor dan air yang tercemar.
Awalnya kutu air dan lintah tidak sebanyak yang ditemukan
sekarang. Namun akibat berbagai banyak nya pencemaran air dan sampah yang
sembarangan dibuang kini jumlahnya meningkat. Tidak hanya itu pemakaian pakan
ikan seperti pelet memperparah kualitas air danau toba. Pelet merupakan benda
yang sangat berpengaruh mengotori air. Penggunaan pelet yang berlebih dapat
memperkeruh perairan Danau Toba. Tidak hanya itu, dari berbagai penelitian yang
dilakukan dasar danau toba saat ini banyak kotoran dan limbah yang berasal dari
pakan ikan.
Jika dulu air
danau sangat bersih dan jernih, kini sudah sebaliknya. Banyak sampah dan kotoran yang tergenang dibibir pantai
terutama daerah Parapat dan Tomok. Dari Penemuan di lapangan banyak pembuangan
limbah perusahaan yang melanggar
peraturan lingkunga hidup. Beberapa pelanggaran ini sudah pasti mengurangi
standar kualitas baku air yang ada di Danau Toba. Sedangkan menurut Dinas
Peternakan dan Perikanan (Diskannak) Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas)
Rudy T H Simamora mengatakan pihaknya sudah melakukan uji langsung kadar asam
basa air danau toba. Berdasarkan pengukuran itu, perairan Danau Toba sangat
mengkhawatirkan. Kadar asam basa atau Ph mencapai
angka 9 atau sangat jauh di atas batas normal 6,7 sampai 7,4. Ini
memperlihatkan bahwa perairan danau toba saat ini sangat kritis. Tingginya
kadar asam dapat mempercepat pertumbuhan hewan yang sangat senang dengan
perairan yang jorok dan tercemar. Selain itu didukung dengan tidak adanya ablution terhadap perairan dapat
memperburuk kondisi air dan lingkungan sekitar.
Kesadaran
Bersama
Masyarakat sekitar mengambil andil penting dalam masalah
ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa hampir 80% masyarakat yang tinggal di
pinggiran Danau Toba merupakan saksi dari menurunya kualitas air. Bukan hanya
itu, banyak dari masyarakat ini juga masih kurang perhatian terhadap keberadaan
danau yang selama ini sebagai lahan pekerjaan bagi mereka. Masih banyak dari
masyarakat yang membuang sampah, baik itu limbah ternak babi, sampah plastik
dan lainnya langsung ke Danau Toba. Hal ini sudah pasti mengotori dan
mengurangi kualitas air. Akibatnya masyarakat sekitar juga yang akan menjadi
korbanya. Kurangnya partisipasi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan
ini diikuti juga pengunjung yang datang ke Danau Toba untuk berwisata.
Sisa-sisa sampah plastik makanan dan minuman terbuang di pinggiran danau. Hal
ini mengakibatkan semakin kotornya air dan lingkungan. Tidak hanya itu, hal ini
juga diperparah dengan masih berjamurnya keramba dan jaring apung di beberapa
tempat di Danau Toba. Beberapa diantaranya ada milik pribadi dan ada milik
swasta (perusahaan). Kotoran akibat pemberian pakan ikan yang berlebih dapat
mengotori dan mencemari dasar danau. Akhirnya kualitas oksigen di dalam danau berkurang.
Untuk itu perlu setidaknya pengurangan atau bahkan penindakan terhadap keramba
yang merupakan penyumbang limbah terbesar di danau. Pendidikan menjaga
lingkungan sangat penting. Hal ini dapat memberikan pengetahuan yang benar
terhadap masyarakat, perusahan mengenai kesadaran bersama untuk menjaga danau.
Tanggung
Jawab Pemerintah
Sudah sepatutnya masalah pencemaran air di Danau Toba
merupakan kewajiban semua pihak yang terkait. Hal ini tidak bisa dibiarkan
begitu saja. Apalagi dengan adanya wacana pemerintah untuk mempromosikan kawasan
Danau Toba sebagai “Monaco of Asia” hal ini penting untuk di perhatikan. Dengan
adanya kondisi Danau Toba saat ini, untuk itu semua harus dipersiapkan sebaik
mungkin. Perhatian untuk ini harus yang utama. Sejalan dengan program
pemerintah ini kualitas air danau harus bagus. Karena persiapan yang ada saat
ini akan ditentukan juga dengan keadaan air danau. Semua pihak harus terlibat
dengan penanganan pencemaran air baik itu yang terdapat di perairan itu maupun
di pinggiran sekitar danau.
Dalam hal ini pemerintah tidak bisa lepas tangan dan
berdiam diri. Penanganan akan pencemaran air dan lingkungan di Danau Toba sudah
sangat berdampak luas terhadap segala hal. Banyak masyarakat yang mengambil
kebutuhan hidup dari air danau. Mulai dari mandi, mencuci dan untuk kebutuhan
air sehari-hari. Masyarakat saat ini menantikan regulasi yang bisa menangani
buruknya air Danau Toba akibat sampah dan limbah yang terus semakin hari
semakin bertambah. Penanganan yang cepat dan tepat perlu pada akhirnya agar
tidak terjadi masalah serius di kemudian hari. Tidak hanya itu, sudah
sepatutnya pemerintah juga menangani perusahan-perusahan yang bertindak curang
dengan membuang limbah ke danau tanpa memperhatikan kualitas air. Kebijakan
yang tak hanya menguntungkan sepihak merupakan hal yang benar. Perlu adanya
konsolidasi antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan setempat. Pada
akhirnya pencegahan adalah solusi yang memang efektif untuk menindak masalah
perairan Danau Toba yang sudah semakin serius ini.

0 Komentar