"Jika Tuhan berkehendak, siapa yang tahu"
Tepat pukul 00:00, tidak sampai delapan jam lagi waktu yang di tunggu bram selama empat tahun kini tinggal di depan mata. Bram Pangestu masih terbayang masa-masa pertama kali memasuki dunia perkuliahan. Ketika berusaha mencari biaya kuliah dan uang sehari-harinya untuk bisa bertahan hidup di kota yang sangat asing itu baginya. Kota metropolitan yang selalu riuk pikuk suara kendaraan terdengar. Memang tak dapat dipungkiri bahwa hidup di tempat orang itu memang harus bisa beradaptasi dengan apa yang lingkungan itu lakukan.
Kini entah mengapa semua kenangan yang dulu dia rasakan sangat pedih itu, hari ini akan berakhir dengan sendirinya. Bram sekarang hanya tinggal menunggu detik-detik yang membuat dirinnya dan keluarganya dikampung sangat bahagia. Bagaimana tidak, mahasiswa yang dulunya dipandang tetangganya itu hanya seorang anak tukang deres itu, kini telah berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat cumlaude dan berhasil memperolehnya dengan hanya waktu 3,5 tahun di salah satu universitas terbesar di sumatera itu.
Rintik hujan mulai membasahi kota metropolitan yang panas itu. Kini suara kendaraan yang tadi masih terdengar hingga ke pelosok ruangan, kini bagai angin berlalu. Hujan yang mengalir deras menambah sejuknya udara ruangan yang beberapa hari ini di landa kemarau yang berkepanjangan. Kota Medan, dengan sejuta keunikan dan misterinya kini hanya akan menjadi kenagan bagi bram. Kota ini akan menjadi bukti dari usaha empat tahun yang kini tidak sia-sia baginya. Tinggal menghitung jam dan semuanya akan selesai dan dia akan mencari jalan hidupnya yang baru di tempat lain seperti impian nya.
Entah mengapa pandangan bram seakan teringat kembali kepada sosok yang telah membuatnya seperti sekarang. Yaitu almarhum ayahnya. Kini ayahnya sudah senang di dunia lain dan mereka tak bisa berjumpa untuk bercerita dan untuk mengucapkan bahwa sekarang anaknya itu telah selesai kuiah seperti yang di cita-citakan ayah. Air mata mulai membasahi pipi bram ketika mengingat usaha ayahnya yang membuat semua tetangganya ikut terdiam melihat keluarga kecil itu. air mata kesedihan dan kebahagiaan buat bram pada malam itu. janji ayahnya masih terbesit di ingatan bram. “kamu harus bisa menjaga keluarga kita dan menjadi tulang punggung bagi keluarga kita ini kelak bram dan jangan mengecewakan ayah”. Sambil menghembuskan nafas terakhir ayah pergi dan hanya terdengar suara tangisan kala itu.
Seakan terbawa suasana dinginya hujan malam itu bram mulai terlelap di kasur biru berlambangkan tim sepakbola inggris itu. hujan deras seakan menghantarkan bram dengan sejuta mimpi yang kini tinggal bram nyatakan. Mimpi yang selalu dia tuliskan di buku harian yang kusam itu dan berharap dia bisa mengubah dirinnya dan bangsanya. Ya mimpi besar harus diawali dari perbuatan pula, berbuat tak harus yang besar, tapi mulailah dengan hal kecil. Itulah yang selalu ayahnya ingatkan ketika bram masih kecil.
Pagi itu, bram masih saja menunggu kedatangan ibu dan keluarga kecilnya. Kebahagian ini seharusnya dirasakan juga orang tuanya. Ibu nya kini sudah menjadi tulang punggung masih belum datang dari kampung untuk menemaninya. Dalam benaknya apa ibu masih di jalan?. Ah sudahlah mungkin sebentar lagi ibu pasti akan datang.

0 Komentar