"Bunga yang mekar gugur juga"
Sejenak kuteguk teh didalam gelas yang sejak dari tadi menghiasi meja berwarna kecoklatan yang terbuat dari kayu jati merah itu. seduhan hangat dari teh bercampur jahe itu mengalir hingga ke dalam tubuh mungil yang masih saja menunggu kedatangan sosok pria pendamping dalam mengarungi kehidupan ini. Aku masih saja memikirkan hal-hal terindah ketika pria itu memandangku dan membawaku ke dalam kenikmatan dunia yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Ya, dia lah lelaki yang telah menghancurkan seluruh kehidupan dan juga masa depanku yang telah ku impikan kala itu. Waktu itu aku hanya menganggukkan perkataanya dan terima saja dengan perbuatan apapun yang dilakukannya kepadaku. Aku sangat bahagia sejenak, seperti dunia berada disurga penuh kenikmatan dan ingin selalu berada di pelukan hangat yang tak pernah kudapatkan dari siapapun selain dia. Pelukan, ciuman dan sentuhan yang mengoda hingga ke dalam sanubari ini yang tak bisa digantikan dengan orang lain.
Malam itu adalah saksi diriku yang telah tak sadar dan dibawah cahaya itu. sentuhan dan bisikan suara itu tak habis menusuk hati yang paling dalam. Gejola asmara dua sejoli yang tak bisa dibatasi dan harus berakhir disini. Mata dan hidung yang mengodaku hingga aku terlena dan merelakan segala hidupku bersamanya. Dia adalah pelengkap dalam hidupku yang tak bisa ku lepas hingga nyawaku sekalipun harus kurelakan. Bisikan itu yang mengaung di telingaku, membuat ku masih selalu memikirkan dia masih berada di sisiku sekarang. Kuseduh lagi teh yang masih di genggamanku dan ku rasakan gejolak batin kebencian yang masih mendendam hingga di dalam dada.
Aku masih tak percaya, semudah itu aku masuk dan terjerumus kedalam lubang dosa yang tak sepantasnya kulakukan. Angin berhembus kencang dan hembusan itu menyebar keseluruh tubuhku. Bukan aku yang tak menginginkan dia, tapi cinta ini memang seharusnya tak pernah terjadi. Sisi yang membuatku selalu terpuruk dan hilang ingatan dan tertelan oleh waktu. Aku tak menyangka jika aku masih bisa berdiri dan menutupi semuanya tanpa harus diketahui orang lain.
Tapi sepandai-pandainya tupai melompat toh ia pernah jatuh juga. Aku terpuruk dan semuanya seakan berada dalalm jurang permasalahan yang paling dalam. Gelas itu pecah dan semuanya berserak hingga ke seluruh tempat. Dia pergi dan masalah semakin memuncak. Aku sendiri dan ini adalah hal paling kubenci dalam hidupku.tak satu orang pun percaya padaku. Sekolahku terhenti, tak kembali kerumah dan aku harus menelan semuanya seorang diri lagi.
Cinta asmara yang berakhir dengan kepahitan yang bercampur dengan segala rasa. Perkataan itu tak ada lagi gunanya dan kemanisan itu hanya tinggal hal yang penuh dengan kebencian.
Cinta asmara yang berakhir dengan kepahitan yang bercampur dengan segala rasa. Perkataan itu tak ada lagi gunanya dan kemanisan itu hanya tinggal hal yang penuh dengan kebencian.
KEMARAHAN
Aku hamil dan tak satupun orang yang tau selain dia. Aku sudah memiliki janin yang tak tahu harus kuperlakukan seperti apa. Aku masih muda dan menjaga diriku sendiri saja aku belum sanggup. Kini aku berdua dan masih buta dan tak sanggup melakukan apapun. Cinta kami berakhir dan dia tak mau bertanggung jawab. Alasanya gila, dia sudah punya istri, dua anak dan keluarga.
Dia kembali ke istrinya serta kedua anaknya. Cinta ini berakhir dan kuputuskan untuk bunuh diri. Aku gila, stress dan diluar kendali. Cinta pertamaku berakhir, Semua menjauh. Tapi aku tak sanggup untuk menggugurkan janin yang akan menjadi bayi mungil suatu hari nanti. Hatiku hancur berkeping-keping dan hampir berhari-hari hanya menangis.
Aku kembali kerumah dan tak tahu harus berbuat apa. Aku jujur dan mulai mengakui kesalahan di depan orangtua. Awalnya sulit dan aku tetap memberanikan diri.
Ingatan ku masih tajam ketika ayah menampar dan membantingkanku ke lantai ketika beliau tahu aku sudah berhubungan intim dengan dia dan sekarang hamil. Ayah marah berat seperti tersambar halilintar di siang hari mengetahui aku sudah tidak perawan lagi. Kursi itu patah dan semua seisi meja berserakan didalam ruangan. Anak Haji di desa yang masih terjaga dan memiliki citra baik kini sudah tercela dan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk memperbaiki kondisi itu. Haji di desa yang selalu mengajarakn kebaikan beragama dan bertingkahlaku sehari-hari dan selalu dianggap warga suci kini seakan menjadi bumerang untuk ayah. Wajah ayah tidak tahu mau dibuat kemana lagi dan itu penyesalan terberat dalam hidupku.
Sedangkan ibu hanya menatapku dengan tatapan histeris seperti tidak memandang seorang anak. Beliau hanya diam dan menpuk-nepuk dadanya. Aku tahu tangisan itu memancarkan kekecewaan terhadap anaknya yang sangat beliau banggakan. Aku hanya meneteskan air mata, malu dan teriak didalam hati akan kebodohanku, tidak percaya, hingga mentari dan cahaya pagi itu menatapku, kini aku sudah terbangun dan sadar dari semua perbuatanku dengan dia.
Aku ingat saat tangis dan air mata yang keluar dari kelopak mata tak mau berhenti dan selalu mengingat perbuatan hina yang tak sengaja kami perbuat satu malam itu. Dia, lelaki yang kukenal satu tahun lalu ketika aku baru tamat Sekolah Menengah Pertama. Tatapannya dan juga senyuman itu hingga membuatku terpesona dan mulai jatuh cinta kepadanya. Aku tak menyangka pertemuan singkat di toko buku itu membuat kami saling memendam rasa dan mulai melakukan hubungan percintaan secara tersembunyi. Ini gila, percintaan penuh kerahasiaan dan kebodohan.
Aku masih bingung dengan dia. Senyuman itu seperti menarikku ke dalam dunia yang tak bisa ku ucapkan dengan kata-kata. Bahkan, hatiku bergetar dan jantungku seperti berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku tak mempermasalahkan umur dan status. Dia sangat baik dan aku rasa dia memiliki daya tarik yang selama ini tak keperoleh dari siapapun. Aku mulai berimajinasi dengan hal-hal aneh yang ada diluar bayanganku. Dia lelaki yang tampan dan senyuman itu membuat aku tak bisa melupakannya. Wajahnya tak asing buatku dan seperti sangat sering kulihat dan selalu muncul di hayalanku.
Aku semakin sering ke Toko buku itu untuk membeli buku atau hanya untuk bertemu dengan dia. Tak jarang dia yang selalu menungguku dan selalu melemparkan senyuman itu lagi kepadaku.
Hatiku semakin tak karuan bila bertemu dengan dia, dan ada rasa yang tak dapat kujelaskan kepada siapapun. Aku semakin terpikat dan tak bisa lari dari tatapan dan senyuman yang selalu muncul ketika aku berkunjung ke toko buku itu lagi. Hari-hari masih berjalan seperti biasa, aku anak Pak Haji yang sangat taat beribadah masih saja berkeliling kampung atau pasar untuk menghabisakan waktu atau memandang seluk beluk pasar lebih dekat dan bahkan hanya untuk bisa melihat wajahnya dari dekat. Pertemuan itu masih membuat aku penasaran dan tak jarang aku sering senyum-senyum sendiri apabila sedang mengingat wajahnya. Untuk kali ini aku mencoba memberanikan diri untuk menyapa lebih dahulu apabila aku bertemu dengan dia suatu hari nanti. Gejolak di dalam hati ini seperti merasakan mimpi yang berbunga-bunga yang tak ada yang bisa mengatakanya kepadaku. Perasaan untuk seukuran anak umur lima belas tahun adalah hal yang tak wajar. Aku masih terlalu muda untuk merasakan apa yang sering orang katakan sebagai cinta. Rasa yang muncul antara pria dan wanita ketika mereka saling bertatapan atau saling berbicara dan mulai muncul benih cinta itu. benih yang ditanamam dari rasa suka yang akupun masih memendamnya di dalam dada. Perasaan ini selalu menghantuiku dan tak bisa hilang dari dalam hatiku. Hati yang terdalam dari anak ingusan yang mulai beranjak remaja. Aku sudah mulai besar dan bentuk tubuhku kini sudah terlihat. Wajahku, buah dadaku, hingga pinggulku pun kini mulai terlihat. Aku tak bisa menutupinya, dan kurasa inilah yang dikatakan masa-masa puber pada remaja. Aku masih diam, melihat rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Hujan yang turun dari dahaga kehausan dan membasahi kerongokongan yang kering.
Kutatap lagi rintikan hujan itu dan perhatikan butir-butir tetesan hujan yang masih jatuh dari langit dan membasahi tanah itu. kuseduh lagi teh dari gelas dan kurasakan cinta yang merobek hati yang paling dalam. Aku sudah dewasa dan kini aku tahu apa yang dikatakan ayah dan ibu. Anak perempuan bila sudah besar harus pandai-pandai bergaul dan jangan lupa menjalankan sholat lima waktu. Perjalanan cintaku kini semakin rumit, aku suka dia tapi aku takut mengungkapkan perasaan yang aku rasa ini adalah cinta. Aku di terima di sekolah muslim terbaik di daerahku, awalnya aku sangat bangga dan merasa senang bisa membanggakan kedua orang tua ku untuk bisa menjadi seorang muslimah yang menjadi teladan di rumah maupun di lingkungan rumah.
Sekolahku merupakan sekolah nomor satu yang paling wahid selalu terkenal mengajarkan ajaran islam di daerahku. Bagi beberapa kalangan untuk masuk ke sekolah ini banyak rintangan dan kesulitan sendiri untuk bisa masuk dan belajar disini. Tak hanya pandai sholat dan al-quran tapi yang terpenting adalah perilaku dan cara berpakaian.
Kutatap lagi rintikan hujan itu dan perhatikan butir-butir tetesan hujan yang masih jatuh dari langit dan membasahi tanah itu. kuseduh lagi teh dari gelas dan kurasakan cinta yang merobek hati yang paling dalam. Aku sudah dewasa dan kini aku tahu apa yang dikatakan ayah dan ibu. Anak perempuan bila sudah besar harus pandai-pandai bergaul dan jangan lupa menjalankan sholat lima waktu. Perjalanan cintaku kini semakin rumit, aku suka dia tapi aku takut mengungkapkan perasaan yang aku rasa ini adalah cinta. Aku di terima di sekolah muslim terbaik di daerahku, awalnya aku sangat bangga dan merasa senang bisa membanggakan kedua orang tua ku untuk bisa menjadi seorang muslimah yang menjadi teladan di rumah maupun di lingkungan rumah.
Sekolahku merupakan sekolah nomor satu yang paling wahid selalu terkenal mengajarkan ajaran islam di daerahku. Bagi beberapa kalangan untuk masuk ke sekolah ini banyak rintangan dan kesulitan sendiri untuk bisa masuk dan belajar disini. Tak hanya pandai sholat dan al-quran tapi yang terpenting adalah perilaku dan cara berpakaian.
Seperti biasa, aku sengaja berkunjung lagi ke toko buku ini untuk bisa bertemu dengan dia. Aku berharap bisa bertemu dan bisa menatap wajah itu lagi. Wajah yang sedikit tua untuk seumuranku. Anak perempuan berjilbab yang masih remaja dan belajar percintaan dari dia. Akhirnya dia datang dan tak lupa menghadapku dan lagi-lagi melemparkan senyuman yang kurasa itu adalah senyum cinta. Dia mulai berjalan ke arah ku dan sambil menatap mataku dengan penuh rasa seperti yang ada di dalam benakku. Jantung ini semakin berdegup kencang dan aku tak tau harus berbuat apa kali ini. Seperti terbang ke angkasa dengan dipenuhi bintang-bintang lalu jatuh dan jantungku terasa hendak copot. Aku terbangun dari tidurku dan hanya mimpi. Kulihat jam beker yang berada diatas meja tidur, Tepat pukul tiga pagi. Mimpi ini tidak sekali terjadi, Sudah beberapa kali aku memimpikan dia di dalam tidurku, tapi ah aku tak tau apkah ini benar atau tidak. Tapi aku hanya perlu memastikan senyum itu, apakah itu senyum biasa atau itu adalah senyum rasa cinta. Aku tak tahan lagi. Ingin sekali aku berbicara dan bertanya dengan dia.
Tetesan air itu belum juga habis membasahi tanah dan rerumputan diluar sana. Tatapan itu melambungkanku hingga ke sepuluh tahun yang lalu. Aku tak percaya dia masih tetap datang ke toko buku kecil yang ada di daerah ini. Sudah hampir dua minggu aku tak pernah absen menggunjungi buku-buku yang berserkan ini. Aku tahu buku ini tak pernah dirapikan pemilik toko dan sangat hapal dimana letak-letak buku dengan berbagai macam jenisnya. Wajar saja buku inilah yang mempertemukan diriku dengan dia. Tempat yang tak kusangka menjadi saksi pertemaun dua sejoli yang aku tak tau apakah rasa ini memang cinta atau hanya rasa suka semata. Ku buka satu buku yang berjudul rasa cinta dalam cofe karya anthony capella. Aku tertarik dan berencana untuk membeli dan menyimpanya sebagai koleksi di rak buku. Covernya bagus dan kurasa bisa menjadi bacaan ketika aku sedang libur nanti. Wajahku masih mencari-cari dia yang sudah merebut hatiku. Dia belum muncul dan aku rasa ini adalah jam yang sama dengan waktu ketika pertama kali aku bertemu. Tapi kali ini aku tak menemukan dia lagi. Aku sedih, rindu dan merasa ada yang kurang dihatiku. Senyuman itu tak ada menyabutku hari ini. Kubawa buku yang sudah kubeli dengan perasaan sedih. Plastik dengan isi buku itu masih kupegang. Aku berjalan dan menyusuri bahu jalan raya bergegas pulang ke rumah. Aku kehilangan dan merasa kecewa. Dia hilang dan tak lagi berjumpah denganku lagi disini.
Hari berganti dan rutinitasku di sekolah semakin padat. Sudah hampir seminggu sejak kejadian itu aku tidak pernah berkunjung lagi ke toko buku itu. Hari-hariku dipenuhi dengan jadwal kegiatan sayembara dakwah dan perlombaan islam antar sekolah di daerahku. Aku sedikit melupakanya, namun senyuman itu tak pernah pudar walaupun kami tidak bertemu lagi. Pada perlombaan baca al-quran pada tahun ini diserahkan kepada kami siswa yang baru masuk. Semua persiapan sudah diberikan dan aku terpilih menjadi salah satu perwakilan dari sekolah untuk menjadi pembaca al-quran saat pertandingan nanti. Menjadi wakil dalam perlombaan sudah hal biasa untuk ku. Sejak kecil aku sudah sering memenangkan perlombaan-perlombaan baik itu tingkat sekolah maupun tingkat daerah. Hanya satu yang belum pernah ku rasakan yaitu bertanding dengan lawan dari luar daerah. Tapi untuk saat ini Aku sangat bangga dan kini aku bisa membuktikan kepada keluarga bahwa aku adalah anak yang baik dan bisa jadi teladan. Sejak terpilihnya aku sebagai perwakilan sekolah, namaku semakin terkenal dan banyak yang diam-diam suka denganku. Parasku cantik dan kata orang-orang tak jauh beda dengan model yang ada di televisi. Aku tak risih mendengar perkataan mereka. Ini adalah milik sang pencipta Allah Ya Rab. Aku tak menyombongkan diri, bahkan banyak dari mereka yang terang-terangan lagsung mengungkapkan perasaannya kepadaku. Tapi apa daya, Aku menolaknya. Aku tak membatasi pria yang mau mendekat denganku, tapi masih saja ada yang kurang dibatinku dan mereka yang mendekat menjadi pendukung bukan menjadi teman dekat atau sekalipun sebagai pacar di sekolah.
Cinta itu buta dan tak tahu siap yang akan dihinggapi. Tua, dewasa dan tak hanya itu kini juga anak-anak sudah merasakannya. Aku tak dapat memungkirinya. Ini adalah hal yang sama dengan mereka rasakan. Perasaan suka yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semuanya hanya bisa dirasakan dengan hati tanpa harus diceritakan. Kata mereka bila kita sudah dihinggapi rasa cinta itu, maka semua hal yang akan kita lakukan akan berbunga-bunga. Kita akan merasa senang dan bahagia bila sudah bertemu denganya. Cinta tak mengenal batas waktu. Pagi,siang maupun malam itu akan terasa indah bila sudah merasakannya. Aku bingung cerita mereka sama dengan diriku. Aku merasakan rindu yang paling dalam dan jantungku berdebar bila melihat dia. Ini hal yang tak wajar untuk umur 15 tahun yang masih sibuk bermain dan berkutak dengan buku-buku pelajaran anak sekolahan.
Angin berputar dan mengerakan hujan yang berjatuhan ke permukaan tanah. Air itu tak henti-hentinya menyerang atap yang diam dan tak bersalah. Kuambil sweater biru laut dengan motif bunga tulip berwarna merah muda yang tergantung di gantungan dekat pintu. Aku kembali duduk dan menatap kekaca yang sudah berembun akibat semburan hujan yang masih deras. Tatapanku tajam dan Hatiku masih mencari dan ingin bertemu lagi dengan dia. Goresan diwajahnya dan lagi-lagi senyuman itu. aku tak bisa melupakan dan entah hantu apa yang selalu menghampiriku hingga aku tak tahu harus menutup wajahnya dengan apa. Buku di rak sudah hampir dua minggu tidak bertambah, semuanya seperti kosong dan hampa. Rak itu seperti menangis dan tak bisa berkata-kata. Hari ini aku berencana menambah lagi koleski buku di dalam rak ku. Daftar list buku yang kan ku beli sudah kepersiapkan. Entah mengapa beberapa lama ini aku lebih menyenangi buku berbau romantica dua sejoli dan dengan bumbu-bumbu percintaan yang sangat menyentuh ke hati. Aku seperti dihantam dunia percintaan. Ini adalah cinta pertamaku dan aku rasa lebih dari cinta pertama. Aku bergeegas menuju toko buku yang tak jauh dari tempat tinggalku itu. dengan berjalan kaki lima menit aku sudah sampai di toko buku langgananku itu. kucari buku yang ada di list ku dan secepat mungkin ku kelilingi deretan buku yang berjejer dengan rapi. Masih sama semua buku ini tak ada berubah. Posisinya masih tetap dan hanya sebagian buku baru yang bertambah. Aku bisa menghitungnya hanya dengan hitungan jari tangan saja. Buku baru itu kebanyakan hanya novel dan sebagian komik animasi. Tak bisa dipungkiri bahwa novel memiliki keistimewaan di hati pembacanya termasuk diriku. Aku berjalan ke sudut deretan buku dan mulai mencari buku yang akan masuk dalam list rak buku ku nanti. Hal ini sudah biasa bagiku. Berjam-jam dengan buku yang segudang itu adalah hal yang menyenangkan buatku. Ini hal gila dan menjadi suatu pengalaman bagiku. Bahkan tak jarang aku keluar dari toko karena si pemilik sudah mau menutup toko bukunya. Maka tak jarang aku tertawa bila berjalan pulang dari toko ke rumah. Ada beberapa buku yang sudah masuk target dan kupisahkan ke tempat plastik pembelian. Ibu dan ayah ku tak mempermaslahkan diriku yang konsumersisme terhadap buku. Menurut mereka itu sangat baik buat ku dan masa depanku. Buku adalah jendela dunia tutur ayah dengan penuh kebahagian apabila aku membawa buku dan membacanya setiap hari. aku masih sibuk dengan deretan buku yang ingin sekali untuk kubaca. Mereka seperti memanggilku yang kutahu itu hanya ilusi sejenak saja. Kutatap lagi langit-langit toko buku ini dan kulihat jam dekat dengan penjual buku. Ah, masih pukul empat sore dan masih banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengan kertas-kertas ini.
Tiba-tiba, tangan itu memegang tanganku. Aku sadar dia berada di belakangku dan aku kaget bukan main. Dia, lelaki idamanku yang selama ini ku tunggu kini berada di hadapanku. Dia menatapku dan melempar senyuman itu ke mataku. Hatiku seperti terobati dengan wajah dan tatap itu. aku tak bisa berkata-kata. Mulutku diam dan badan terasa sedang merasakan gejolak asmara. Ini pertama kali kurasakan dalam hidupku, dia yang selama ini ada dalam rasa cintaku sekarang ada di dekatku dan sedang menyirami benih cinta yang sudah tumbuh di hatiku. Tangan itu akhirnya lepas dan aku merasa gugup. Dia memperkenalkan dirinya. Tangan kami saling bersentuhan, dan ini hal yang ada diluar bayanganku. aku membernaikan diri untuk membalas percakapanya. Seperti tak bisa berbicara aku menutupi kegugupanku dengan membalas senyuman yang kurasa membuat hatinya lemas tak berdaya. Dia mendekatkan badanya ke arahku. Aku semakin gugup dan hanya bisa membalas dengan senyuman. Aku mulai tidak fokus mencari buku yang sudah di dalam pikiranku. Dia memulai percakapan yang seperti orang baru berkenalan. Dia akhirnya banyak bercerita kepadaku mengenai dirinya dan maslah percintaanya. Dia lelaki humoris dan pemberani menurutku. Setiap perkataan yang muncul dari mulut indahnya seperti tiada habis untuk membuat ku tertawa. Kini aku bisa melihatnya dari dekat dan merasakan senyuman itu dengan kenikmatan. Aku tak bisa lagi menutupi rasa suka ku kepadanya. Ibarat ikan yang sudah terpancing dengan kail, ya itulah aku. Tanpa sadar beberapa orang yang juga berkunjung ke toko buku ini sudah melirik-lirik kami yang sdari tadi berdiri dengan dekatnya. Aku salah tingkah dan mulai menatap seisi toko. Mereka kembali dengan kesibukan mencari buku dan seperti mereka tau bila aku menatap mereka. dia mengajakku berjalan keluar sambil bercerita. Dia tak mau menggangu para pengunjung toko buku yang semuanya sibuk dengan kegiatanya masing-masing. Taman kota adalah tempat yang biasa dikunjungi orang di daerah kami. Taman yang berada di alun-alun kota dekat dengan kantor pemerintahan daerah setempat. Tempat ini adalah paling sering dikunjungi warga sambil menghabiskan waktu sore dengan jalan sore atau hanya sekedar bersantai. Sambil berjalan, kami banyak bercerita dan tertawa. aku tersipu malu dan merasa mimpi berjalan dengan nya. Dia tampan dengan menggunakan celana jeans dan baju kaos hitam oblong, memakai topi dan tak lupa sepatu casual berwarna hitam pekat. Sore ini jalanan dipenuhi kendaraan bermotor. Jalan sedikit padat dan banyak pejalan kaki yang berdesak-desakan sambil menyebrang dari sisi bahu jalan yang satu menuju bahu jalan yang lain. Polusi dimana-mana dan aku rasa ini sudah hal biasa di daerah kami. Aku mengalihkan pandanganku. Tatapanku tertuju kepada lelaki yang berjalan menemaniku menuju taman kota. Aku tak lupa mencuri-curi pandangan kepadanya. Aku menatap dari atas hingga ke bawah tubuhya. Badanya sempurna dan ideal untuk seorang pria dewasa. Aku masih tak percaya dengan semua ini, kutarik telingaku dengan keras dan terasa sakit seperti biasa. Ini bukan mimpi dan bukan seperti sebelum-sebelumnya.
Buku di list ku kini seperti terlupakan dengan percakapan kami yang tiada batasnya. Kami baru kenal, tapi kami sudah seperti orang yang sudah mabuk asmara yang harus dipuaskan dengan pertemuan ini. Aku membernaikan diri memegang tanganya dan dia juga sebaliknya. Kami sudah seperti sepasang kekasih tapi belum meiliki status yang jelas. Aku sangat bahagia bisa berkenalan dan berbicara dengan nya. Lelaki yang selalu menghantui ku dan aku rasa kini aku tak perlu takut lagi. Cinta yang mulai tumbuh, berkembang dan aku tak tahu bagaimana akhirnya. Yang terpenting aku harus menyiramnya dan merawatnya dengan baik. Aku membalas tatapanya dan tersenyum malu seperti tak sadarkan diri. Aku masih polos dan buta akan percintaan. Aku seperti bermain ludo dan mencoba keberuntungan dengan cinta pertamaku. Angin masih sepoy-sepoy dan berhembus terasa mengenai wajah. Matahari sudah tertutup pepohonan yang masih rindang di taman yang seukuran dengan lapangan sepakbola. Pohonya berjenis-jenis dan dapat dibedakan dengan sangat mudah dengan melihat batang dan daunya. Aku tak tahu sudah berapa lama taman ini ada di kota ini. Sejak kecil aku sudah sering bermain-main ke taman dan menurut cerita orang tua ku ini adalah tanah milik warga yang sejak dulu sudah dihibahkan ke pemerintah untuk menjadi tempat umum bagi warga. Langkah kaki semakin lama semakin melambat. Kami tak banyak bercerita lagi, kami hanya menatap orang-orang yang sibuk dengan kegiatan nya. aku mulai dingin dan tak tahu harus memulai percakapan dengan topik apa. Angin semakin kencang dan daun pohon beringin itu mulai berjatuhan dan membuat daunya seperti salju yang berjatuhan di tanah. Dia menatapku dan sambil tersenyum. Dia berhenti dan duduk di bawah pohon berakar yang aku tak kenal namanya. Dia menarik ku dan sambil duduk didepanya. Dia memulai percakapan lagi. Kami membahas mengenai banyak hal yang jauh dari topik percakapan sebelumnya. Kali ini dia bercerita mengenai dua pasang kekasih yang saling jatuh cinta dengan hal unik. Pria dan wanita bertemu ketika pasar malam berlangsung. Pria adalah penjaga permainan di pasar malam itu dan sudah pasti wanita itu adalah pengunjung. Berawal dari tatapan mata, Benih cintapun tumbuh dan mereka semakin sering bertemu diluar selain di pasar malam. Perjalanan cinta mereka tak semulus yang mereka bayangkan dan harus berkali-kali harus berjauhan. Tak hanya itu orangtua wanita tidak setuju anaknya pacaran dengan pria yang tidak jelas statusnya. Tapi dengan cinta mereka yang kuat dan mereka hidup dengan bahagia. Dan akhir cerita Mereka memiliki dua anak dan mereka tinggal dengan harta yang berlebih. Aku semakin kagum terhadap dia dan banyak hal yang belum ku ketahui. Aku semakin penasaran dengan hal yang akan dia lakukan besok atau lusa.
Matahari semakin tengelam dan mulai takut mengeluarkan sinarnya. Awan mulai menutupi dan cahaya lampu jalan sudah hidup dan mulai menerangi sore hari. Jalan raya sudah sepi dan orang-orang hilang seperti ditelan matahari. Kami berpisah dan saling mengucapkan salam. Tak banyak yang bisa ku katakan kepada dia. Kami berlawanan arah, aku menuju jalan depan alun-alun kota sedangkan bayangan dia hilang dibawah sinar lampu jalan itu. Aku sangat puas hari ini dan tak akan pernah melupakan pertemuan yang sangat istimewa ini. Ini seperti air hujan yang membasahi tanah yang kemarau hingga berbulan-bulan. Air itu mengalir dan mengisi hati yang kosong. Tak ada yang bersisa dan ini yang dikatakan orang cinta. Akan kutulis kenangan ini dan akan kuceritakan suatu hari nanti kepada mereka yang ingin mendengarnya. Aku berjalan menuju rumah dan menyusuri gang sempit yang hanya seukuran untuk sepeda motor. Lampu jalan itu masih menemaniku dan semakin terang menyinari sepinya sore akibat terbenamnya matahari diufuk barat.
Aku sadar dan semakin semangat menjalani hidup yang semakin dipenuhi dengan bunga-bunga percintaan. Matahari dan bulan selalu menyinari siang dan malamku tanpa meminta balasan. Aku patut bersyukur dengan diriku dan keluargaku yang dipenuhi dengan kebahagian. Ayah yang selalu menjagaku dan memberikan nasehat-nasehat yang baik kepadaku. Ibu yang selalu menjadi tempat bersandar dengan penuh cerita yang tak bisa terlupakan. Tapi untuk kali ini, aku masih belum bisa banyak berbicara kepada ibu mengenai perasaan yang ada di hatiku dan yang paling penting tentang lelaki yang baru ku kenal. Aku tahu ibu adalah orang yang selalu pingin tahu dengan hal baru apabila aku sudah bercerita. Ini belum tepat waktunya dan mungkin suatu hari nanti atau tidak sama sekali. Ayahku sangat terkenal dikampung kami sebagai haji yang selalu memberikan dakwah dan nasehat bila sudah di mesjid atau di warung-warung. Ayah asli kelahiran sukabumi dan masih menjaga tradisi dan aturan-aturan didaerahnya dulu. Berbeda dengan ibuku yang memang perempuan berasal dari daerah ini. Menurut cerita ibuku, dulu ayah dan ibu pertama kali bertemu ketika sedang sholat di mesjid kampung kami. Ayah yang menggunakan pakaian putih kala itu bekerja di perkebunan yang tak jauh dari kampung kami. Cinta mereka muncul dari tatapan pertama. Ayah memberanikan diri melamar ibu ke rumah walaupun saat itu mereka belum berpacaran. Ibu sangat kaget dan tentunya penuh kebahagian. Tak perlu lama untuk menjawabnya, ayah dan ibupun langsung menikah dan dikaruniai satu anak yaitu aku. Menurut cerita ibu dulu aku sebenarnya tak bisa lahir dengan sempurna. Ibu memiliki penyakit di kandungan dan kemungkinannya hanya dua yaitu aku yang direlakan atau ibu. Itu pillihan yang sulit buat ayah saat itu. namun keberuntungan masih berpihak kepada keluarga kami. Aku bisa lahir walaupun dengan cara sesar dan ibu pun selamat walaupun tak bisa lagi mengandung. Aku sangat beruntung dan tentunya cerita ini tak bisa terlupakan kedua orang tua ku hingga saat ini.
Perlombaan dakwah dan membaca al-quran untuk daerah kami pun berlangsung. Sistem perlombaanya yaitu dengan menggunakan mekanisme gugur. Calon yang kalah atau diluar kriteria akan secara otomatis kalah. Memang sistem ini sangat berat buat kami siswa yang masih pemula. Beban kami semain berat dengan membawa nama sekolah. Aku masih ingat perkataan dia. Sentuhan ini akan mendukungmu dari belakang. Jangan takut, bila kamu sudah mempersiapkannya dengan baik, tak ada yang tak bisa dimenangkan. Aku tersenyum. Dengan penuh semangat aku ikut lomba. Awalnya sedikit sulit, semakin kesini kita semakin diajarkan cara memenangkan perlombaan. Selama perlombaan aku hanya mengingat senyuman dia. Dia selalu menemaniku saat itu. sistem gugurpun berlangsung. Banyak dari kadidat-kadidat yang tereliminasi dan harus pulang terlebih dahulu. Jalanku masih mulus di perlombaan ini. Aku masih bisa berbangga karena banyak dari peserta yang bertanding dengan asal-asalan. Kini tinggal tersisa lima sekolah yang berhasil lolos ke babak final. Aku adalah salah satunya. Aku semakin percaya diri untuk memenangkan perlombaan ini. Selain di dukung ayah dan ibu, guru dan teman-tean selalu bersorak memanggil namaku. Aku patut berbangga. Ini adalah yang terakhir, aku masih tetap berani dan tak lupa berdoa kepada allah. Pengumuman pun berlangsung, aku hanya menempati posisi kedua pada perlombaan membaca al-quran tahun ini. Ini suatu prestasi yang sudah sangat memuaskan buat ku, orang tuaku dan terlebih sekolahku.
Kuseduh lagi teh yang sudah mulai tak panas lagi. Tapi rasanya masih sama, teh rasa jahe. Aku termenung dan tak tahan dengan ingatan itu. kuambil sepotong roti yang sejak tadi tak ada kusentuh di dalam kotak ini. Rasanya coklat dan bercampur dengan kacang yang dibuat ditengah-tengahnya. Air itu masih sama derasya dengan sebelumnya. Ini adalah pertanda musim hujan sudah datang. Aku berjalan dan memasuki toko buku itu lagi, kulihat dia sudah menunggu dan menatapku dengan penuh harapan. Dia tak melupakanku. Dia masih memiliki rasa terhadapku. Kami kembali bertukar senyuman sambil berbicara dengan topik-topik hangat . Dia tahu kalau aku menang pada perlombaan itu, Dia sangat senang dan tak lupa mengucapkan selamat kepadaku. Aku rasa itu adalah cinta. Seorang wanita berjalan sama dengan lelaki yang baru dikenalnya. Aku tak mau langsung mengungkapkan perasaanku. Aku harus menahan dan biarlah waktu yang akan menceritakanya kepadanya. Malam ini dia mengajakku makan malam sama. Aku kaget dan penuh tanya. Aku takut dan tak bisa keluar malam untuk bertemu denganya. Tapi janji sudah janji, aku sudah mengiyakan untuk datang dan makan malam bersamanya.
Hari-hari kemunafikan ku pun sudah di mulai. Sore itu aku sengaja duduk dan berlama-lama di depan rumah. Mencari ide untuk bisa keluar malam dengan dia. Ayah adalah orang yang disiplin. Ayah tak mau anaknya seorang keluar malam dengan alasan tidak jelas. Sejak kecil aku memang diajarkan untuk tidak pergi keluar malam jika tidak di temani. Ayah biasanya selalu mengantar dan menjemput ku apabila aku memiliki tugas sekolah. Hidupku rumit dengan segala aturan yang sejak dari dulu sudah diterapkan di ruamh kami. Aku gak mungkin pamitan kepada ayah dengan alasan menemui dia. Bisa-bisa semakin panjang urusan kedepannya. Aku tak ambil pusing. Aku kembali ke kamar dan memandangi seluruh isi kamar. Buku-buku baru berderet di rak, fotoku dengan keluarga serta jam itu yang sudah menujukkan pukul enam sore. Aku bingung, kami berjanji ketemuan jam tujuh dirumah makan yang tak jauh dari taman. Aku semakin ragu tak bisa keluar dan menemui dia. Dia lelaki yang menjadi cinta pertamaku. Tapi usaha tetap usaha Aku bergegas dan memakai pakaian yang sangat cocok dengan ukuranku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh dan aku masih bingung untuk bisa keluar. Jendela yang kutatap menuju halaman samping. Keras kepala dan mau menang sendiri. Aku lompat dari jendela samping tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Aku bebas dan tak ada yang menghalangi. Aku berlari menuju alun-alun taman dan tak ku sangka tepat di depan rumah makan dia sudah menungguku. Sekuntum bunga mawar merah dengan boneka berwarna pink diberikannya kepadaku. Aku mencintaimu dan hanya dirimu seorang.
Apakah kamu mau jadi pacarku?. Tanyanya kepadaku.
Aku semakin terbang ke langit-langit yang penuh dengan bunga-bunga. Aku gugup, malu dan rasa yang bercampur menjadi satu. Ini pertama kalinya aku merasakan cinta yang sesungguhnya, cinta yang datang dari dia yang telah merebut hatiku. Aku hanya bisa menggangukan kepalaku untuk membalas cinta dari dia.
Kamu cantik, baik dan pintar dan tak banyak wanita sepertimu. Tambahnya
Malam itu semua hal yang ku inginkan selama ini sudah terwujud dan tak banyak seperti diriku. Pacaran pada umur 15 tahun dan dengan pria yang memang aku idamkan. Cinta itu indah dan hanya mereka yang merasakan yang tahu bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Aku termenung dan menatap seisi ruangan tempat makan. Ada sekitar 10 orang yang duduk dan menikmati hidangan di mejanya masing-masing. Mereka sama seperti kami, ya berpasangan dan duduk berdampingan. Ku perhatikan keluar dan kendaraan bermotor masih menguasi jalan pada malam ini. Beebrapa orang berlalu lalang dengan berbagai macam ekspresi yang unik. Dia menatapku lagi dan senyum lebar dihadapanku. Senyuman ini, tatapan ini dan wajah ini kini sudah milik ku. Aku tak takut lagi dengan mereka yang mungkin mendekati dia di luar sana dan yang terpenting dia sekarang bagian dari hidupku. Cintanya miliku dan sama sebaliknya.
Pandangan ku tak bisa lepas dari wajah nya dan ini bukan pertama kalinya kulakukan. Lampu lampion yang menerangi rumah makan ini semakin malam semakin terang. Di dinding ruangan terpajang banyak foto berdua si pemilik rumah makan dengan wanita cantik yang berparas seperti penyanyi dangdut era 90-an. Rambut, Wajah dan yang paling mencolok adalah pakaian yang masih memakain baju longgar dengan kemeja wanita kusam. Fotonya begitu mesra dengan bermacam gaya yang sangat sesuai dengan mereka. Ini mengingatkanku dengan foto kedua orangtua ku yang penuh dengan kekakuan dalam berfoto. Ayah ku adalah orang yang sangat sulit untuk berfoto. Beliau bukan tak mau difoto, tapi yang menjadi masalah adalah beliau sangat sulit bergaya ketika berada di depan kamera. Berbeda dengan ibuku yang penuh dengan keberanian. Hasil jepretan foto ibu tak pernah diluar kata sempurna. Maka bila ayah dan ibu berfoto maka yang akan membuat aneh adalah foto ayah yang tak bisa menyesuaikan dengan kamera.
Dia menatapku lagi, kali ini datar dan seperti ada yang disembunyikan dari diriku. Hal ini tak pernah dia lakukan sebelumnya. Tatapan dan raut wajah itu, membuat aku semakin penasaran dan tak bisa menahan diri. Akhirnya setelah beberapa lama terdiam dia memulai percakapan itu lagi.
“aku sebenarnya tak bisa jauh darimu. Kamu adalah ibarat cincin yang selalu menyatukan hati kita berdua ini”.
Jantungku seperti berhenti berdetak, terkejut dan tak bisa berkata-kata lagi. cicin yang terbuat dari besi putih yang bertuliskan namanya dan namaku. ini membuktikan cintanya memang tulus kepadaku. Ini adalah hal yang paling romantis di hidupku setelah dia memberikan bunga tadi. Aku masih terdiam dan menatap balasan matanya.
“tiada hal yang lebih indah dari hal ini”. Balasku
Dia memakaikanya di tanganku dan meberikanya satu lagi ke padaku agar segera kupasang ketanganya. Hatiku sangat bahagia dan bercampur dengan haru. Aku tak percaya dia mempersipkan semua ini untuk diriku. Ini adalah hal pertama yang kuterima dari orang yang kucinta. Malam ini dibawah bintang dan bulan cinta dua sejoli semakin berkembang dan akan berkembang lagi degan sendirinya.
Sejak hari itu gerak ku semakin dijaga ayah dan ibu. Aku tak bisa keluar malam dan harus berpamitan apabila ingin keluar malam dan mengerjakan tugas. Aturan ini semakin menghalangiku dan ruang gerak ku semakin terbatas. Aku kaku dan tak tahu harus berbuat apa. Malam itu adalah malam terakhir kali aku bertemu dengannya dan biasanya dia menitip surat dan meberikannya kepada teman atau orang yang dekat denganku. Percintaan kami semakin rumit dan aku tak bisa seluasa seperti sebelumnya. dia tak menjaga jarak dengan ku dan aku tetap membalas suratnya dengan kata-kata romatis yang bisa mengobati rinduku dan rindunya. Ayah masih seperti dulu disiplin dan mengutamakan ibadah setiap hari. Dia tak mau kami sekeluarga melupakan sholat dan aturan-aturan yang nabi Muhammad ajarkan.
Pendidikanku masih seperti biasa, siswa kelas satu dengan banyak penggemar pria di sekolah. Guru dengan pengajaran yang lebih mendalamkan nilai-nilai agama dan hampir disetiap pelajaran wajib ada ajaran agama Islam yang disampaikan. Sekolah tak ada perubahan masih seperti pertama kali aku masuk sampai hari ini. Nilai dan sekolah tak ada masalah dan itu mudah buat ku. Hidupku lengkap sudah, sekolah dan percintaan yang masih bisa terkendali tanpa ada permaslahan yang berat ku hadapi. Cintaku masih seperti sebelumnya, kami masih sering curi-curi waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Itu mudah, tidak masuk sekolah dengan alasan sakit demam. Kalau udah seperti itu aku dan dia akan pergi ke luar atau tempat yang bisa menghapus rindu yang sudah mendalam. Atau tak jarang bila sedang cepat pulang aku menemuinya disatu tempat.
Dia bekerja sebagai pekerja di toko bangunan yang tak jauh dari toko buku di pasar. Jadi untuk berjumpa atau hanya bertatap muka sangat mudah dengan sembunyi-sembunyi. Aku bukan tipe yang pemberani. Bila ayah sudah marah, dunia ini seperti hancur berkeping-keping. Aku tak tau mengapa ayah memiliki emosi yang tinggi sekalipun dia Haji. Itu tak ada hubunganya apabila sudah dipuncak kepala. Semua yang ada di rumah akan habis dimarahi dengan perkataan. Untuk menemui dia aku harus berjaga-jaga dengan ayah. Aku tak boleh ketahuan atau sampai dua kali melakukan kesalahan yang sama. Hal ini wajar buat ayah, karena aku adalah anak satu-satunya yang ayah dan ibu miliki. sudah sepantasnya ayah menajaga dan membesarkanku sesuai keinginnanya. Aku tak begitu banyak tahu mengenai dirinya walaupun kami sudah berpacaran. Aku tak mau langsung bertanya dengan segudang pertanyaan yang bisa-bisa membuat dia sakit kepala dan bosan menjawab pertanyaanku. Dalam benak ku jalani saja dulu dan biarkan air dan angin yang akan memberitakan satu persatu tentang dia yang kucintai. Aku semakin tak bisa menahan diri dan dipenuhi dengan banyak keraguan. Sekat pembatas antara diriku dan dia kini sudah jelas terlihat. Dirinya tak bisa memiliki ku sepenuhnya karena aturan kedua orang tuaku. Percintaan seperti ini mengingatkanku pada cerita dia saat kami duduk berdua di bawah pohon rindang dan angin yang sepoy-sepoy itu. cerita dua sejoli yang tak penuh dengan rintangan dan tantangan tapi pada akhirnya hidup dengan penuh bahagia. aku kaku dengan linangan air mata. Air yang masih turun dari mata yang penuh dengan kesengsaraan. Aku terkekang dan tak bisa berkata banyak di sehari-harinya. Cintaku tulus kepadanya walaupun kami tak bisa sepeuhnya bersama. Hati ini masih sama seperti pertama kali melihat dan menatapnya. Getaran hati yang bergejolak dari lubuk yang paling dalam. Ini cinta pertama dan masih banyak yang aku belum mengerti. Mataku menatap sudut kamar yang berbentuk persegi. Kepalaku berputar dan menatap seisi kamar dan termenung memandang kenanagan ketika masih kecil. Waktu dimana hari-hari dipenuhi dnegan bermain dan yang utama aku belum mengenal cinta saat itu.
Aku masih sendiri dan tak bisa keluar dari kenangan-kenangan yang sudah membelenggu ku bertahun-tahun. Ini sangat menyiksaku dan tak tau harus berbuat apa. Sudah banyak lelaki yang mendekatiku, tapi tak satupun yang cocok di hati dan kehidupanku. aku tak tau apakah ini suatu penyakit atau memang aku yang tak berani lagi mengambil resiko yang dulu pernah membuatku terpuruk. Kubuka album foto yang disusun rapi dengan bentuk yang bermacam-macam. Berbagai jenis gaya ketika aku masih sekolah dulu. Aku tersenyum melihat kepolosan yang terlihat di wajah mungilku. Aku kini sudah dewasa sudah memiliki anak dan tak ada satupun kekurangan. Kehidupan sehari-hariku hanya dipenuhi dengan rutinitas pekerjaan dan menjaga keluarga kecil yang akan bisa membanggakanku kelak.

0 Komentar