Ad Code

Responsive Advertisement

"Geng aku sebenarnya gak setuju sama perempuan-perempuan itu lah". Gumamku sambil jalan pulang ke kostan
"Emang kenapa rupanya niel, kan enak kita bisa liburan, sama cewek-cewek lagi". Sahut Feri membalas
"Aku juga lah kurang setuju, udahlah kita gak tau tempatnya dan lagian ini kan tanggal tua. Bertambahlah utang, agoyamang". Jawab bolus menggelengkan kepala
"Tadi kulihat kau gak ada ngomong fer dikontrakan orang itu, atau kau sekongkol ya sama mereka?". Jawab diman juga sedikit kurang terima
"Yaudah lah geng, kita nikmati aja lah perjalanan ini. Kan udah dipersiapkan mereka semua, santai aja, kita tinggal ikutin arahan". Jawab Feri menutup percakapan

Kami berjalan pulang menuju kost masing-masing. Bolus mengarah ke selatan setelah pertigaan dan berpisah dengan kami yang masih melanjutkan perjalanan menuju gang pintas, melewati gang kotor yg tak jauh dari seberang rumah makan padang. Aku dan diman satu kost bareng dan feri masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 100 meter lagi dari kost kami. Sore ini kami berencana berangkat dari Kota Medan sekitar pukul 4 sore menggunakan bus Datra yang haltenya berada tidak jauh dari tempat kami.

"Guys kita langsung kumpul di halte datra aja ya, aku kirim alamatnya sekarang. Jangan ada yang terlambat". Pesan dari Marti di grup Whatsapp

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, setiap detik, menit dan jam bergerak seolah melawan gravitasi. Mentari mulai sayu dan  kehilangan semangat. Mungkin dia terlalu lama berdiri dan berjemur, hingga ia lupa mengepakkan sayapnya. Pohon-pohon berguguran menahan teriknya mentari yang sudah berhari-hari merindukan pelukan sang hujan. Lalu hujan dimana?. Hujan lupa menyapa debu dan tanah yang sudah meronta-ronta mengotori setiap sudut jalan. Aku tidak tahu mengapa hujan tak melawan mentari, atau sedikit beradu argumen untuk berbagi waktu sedikit saja. Lalu membalaskan dengan butiran embun yang hinggap di jendela hingga mentari terdiam dan termenung. Menancapkan butiranya dan mengalir deras, membasahi kerongkongan kering lalu hilang dan pergi ketika mentari datang lagi.

Aku, diman dan feri berencana berangkat sama menuju halte bus datra. Dari kost kami hanya sekitar 300 meter tidak jauh dari kost feri jika diukur dari jaraknya. Kami cukup berjalan menuju kost feri dan terus melanjutkan perjalanan hingga sampai ditujuan. Sebenarnya perjalanan tidak jauh, namun dikarenakan cuaca Kota Medan sedang terang benderang, berjalan 300 meter saja sudah begitu lelah untuk kami. Bolus rencana akan menyusul kami setelah semuanya berkumpul di tempat. Aku tak tau mengapa dia tak langsung saja berangkat bareng dengan kami. Mungkin dia takut perjalanan ini dibatalkan.

Ternyata geng perempuan sudah terlebih dahulu sampai ditujuan. Mereka tepat waktu sekali dan yang perlu kalian tau, mereka membawa bekal nasi dan ikan untuk kami.
Aku sebenarnya tidak berharap mereka masak, apalagi sampai membawa makanan hingga ke halte untuk kami. Baik, gak masalah ini berkah untuk kami untuk memulai perjalanan. Kami duduk di warung minum tempat penumpang biasa menunggu bus datang. Bercerita dan menunggu yg lain datang agar segera berangkat.
"Pasti kalian belum makan kan?". Tanya marti
"Belum loh mar, dari tadi kami sibuk mempersiapkan perlengkapan". Jawab diman
"Kalau gitu makan lah kalian dulu gengs, kami udah masak loh. Kami udah duluan makan tadi". Jawab Tantri menyodorkan makanan yg mereka bawa
"Nanti aja tan, lagian Bolus belum datang kan. Barengan aja nanti makannya". Jawab Feri
"Oh iya Bolus dimana guys?, kok belum datang dia. Kabari dia dong. Kan udah kubilang tadi tepat waktu. Kesal Marti sambil mecoba menelepon Bolus
"Telponya gak diangkat mar, Whatsapp nya juga gak aktif. Tadi dia bilang nyusul setelah semua kumpul". Jawab diman meyakinkan marti
"Yaudah, kalau dia gak datang kita aja yang berangkat. Kita tinggalkan kalau bus nya udah datang. Kan salah dia kenapa gak bisa dihubungi". Jawab marti sedikit gondok

Luar biasa, hari ini jumlah penumpang di halte Datra begitu ramai. Banyak yg berdiri menunggu bus datang di halte, tidak hanya mahasiswa, orang tua dan anak-anak juga. Ukuran busnya tidak besar, ukuran 10-15 penumpang saja. Ukuran bus disesuaikan, karena memang kondisi jalan yg tidak memungkinkan untuk bus besar bisa lewat. Sebenarnya bus ini tidak hanya ke Kecamatan Merek saja, namun tujuannya dari Kota Medan hingga ke Kabupaten Dairi dan melewati Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Untuk layanan bus tidak hanya Datra saja yang melayani perjalanan kami, masih ada Sinar Sepadan, Raja Napogos dan Travel dengan mobil pribadi yang sedikit lebih mahal. Untuk Sinar Sepadan busnya masih sedikit, kami takut tidak kebagian tempat dan Raja Napogos halte nya di Simpang Pos atau 1 Kilometer lagi dari halte Datra. Untuk travel kami tidak berminat, dikarenakan budget yg tak sesuai dengan perencanan. Baik, karna kondisi kami memilih Datra.

"Hallo gengs, udah lama kalian disini?". Tanya bolus yg tiba-tiba datang bagai setan mengejutkan kami
"Ya udah lama lah nungguin. Kau macam artis, telpon susah diangkat, sms gak dibalas, Whatsapp juga gak aktif". Gerutu Marti yang sedari tadi sudah mulai bosan menunggu.
"Sory ya, aku tadi nungguin kawan mau ngantar kesini". Jawab bolus meyakinkan marti
"Kan bisa kau naik Becak, ojek atu angkot 135, alasanmu aja". Ketus marti
"Yaudahlah geng, ngapain lagi kita permasalahkan. Lagian kita kan udah lengkap. Makan lah dulu kita". Jawab Feri menengahi
"Ini Fer nasi sama ikannya, aku yg masak loh". Jawab Yuni sambil menyodorkan makanan
"Makan lah kalian, biar nanti malam gak usah cari makan di luar sampai disana". Jawab Risma menambahi
"Yaudah aku cek tiket bus aja lah, biar siap makan langsung berangkat kita". Marti bergegas menuju loket pembelian tiket

Sambil makan kami memesan teh hangat dari warung yg kami duduki sejak tadi. Risma mengeluarkan 2 piring dan lauk tempat kami berbagi makanan.  Nasi dan lauknya dibagi sama rata, diman dan aku makan satu piring, Feri dan Bolus juga berbagi satu piring. Memang benar masakan Yuni memang nikmat dan tak ada tandinganya. Ikannya luar biasa gurih dan  enak. Sebenarnya yuni tidak hanya jago memasak ikan, daging, sayur juga kok. Sudah beberapa kali Yuni masak dan semua masakanya membuat kami berdecak kagum. Mungkin dia salah mengambil jurusan kuliah, mendingan ambil tata boga atau perhotelan saja ya.

"Guys, kata supirnya kalau untuk 8 orang tiketnya gak ada lagi sampai jam 9 malam. Kalau mau, bisa tapi dipisah-pisah gitu. Jadi gimana dong?". Kesal marti sambil menggaruk rambutnya
"Gak mungkin dipisa lah mar, kita kan gak tau tempat. Udah itu berapa lama lagi kita menunggu disana". Jawab Bolus
"Kalau mau ada cara kedua sih, kita naik bus lain Raja Napogos". Jawab marti memberi saran
"Kau yakin Bus Raja Napogos ada tempat untuk kita?, nanti sama aja kayak disini". Jawabku sedikit pesimis
"Tadi itu sih dibilang supirnya, kalau kalian memang mau ke Kecamatan Merek mendingan naik Raja Napogos. Apalagi rame-rame kayak gini". Jawab marti meyakinkan yg lain
"Yaudah ayok lah kita kesana, daripada disini juga gak jelas". Jawab diman mengarahkan yg lain
"Ngomong-ngomong kita naik apa ke Simpang Pos guys?, kan lumayan jauh dari sini". Tanya Feri
"Ya, jalan lah. Macam perempuan kau Feri. Kami aja perempuan sanggup jalan kesana apalagi lah kau". Sahut marti membuat semua tertawa

Sebenarnya jarak perjalanan dari halte datra menuju halte Raja Napogos sedikit jauh, kurang lebih 1 Kilometer lebih. Aku gak tau apa dipikiran perempuan-perempuan ini hingga sanggup jalan sejauh itu dengan beban tas dipundak, cuaca sedikit panas dan mereka paling bersemangat. Sebenarnya ada angkot lewat langsung dari halte datra dengan membayar 2.000 rupiah sudah sampai di Simpang Pos. Tapi ya tapi, seperti yang aku bilang sebelumnya hitungan anak ekonomi dan matematika masih kalah dengan hitungan perempuan-perempuan ini. Hanya karena 2.000 rupiah kita jalan bagai musafir ditengah gurun kering. Menyapa debu yang terbang dihantam angin, menusuk hingga keparu-paru. Menggetarkan tanah dan batu hingga keringat mulai membasahi wajah dan aku yakin make up yang mereka pakai luntur digerus asinya keringat sore itu. Baik tak lama kami sampai di halte Raja Napogos dengan sisa perjuangan 45. Kami pesan tiket dan memang benar kepadatan penumpang jauh lebih sepi disini. Sangat berbanding dengan halte datra tadi. Kami berhasil mendapat 8 tiket dan berangkat jam 6 lebih. Baik, wajah-wajah sumringah terpancar di wajah kami.

Jalanan hari ini sedikit padat, banyak kendaraan yang ingin berlibur menuju arah sibolangit dan brastagi. Pada umumnya masyarakat Medan sering menghabiskan liburan ke daerah dingin di Sumatera Utara ini. Ini terlihat dari bus-bus seperti Sutra, Makmur, Sinabung dan Murni padat dan banyak yg antri di halte bus. Tidak hanya itu, saya juga kagum dengan banyaknya pecinta alam dengan tas carrier untuk berkemah masih menikmati alam yg sejuk dan bersih. Namun sayang, mereka banyak yg naik keatas bus dan duduk diatas kap bus tersebut. Tidak seperti kami, berpetualangan tapi tidak membawa peralatan outdoor yg lengkap. Tapi tak apa, menikmati alam bukan karena kita memiliki perlengkapan, tapi kita memang terpanggil untuk dapat melihat indahnya ciptaan Tuhan.

Bus kami mulai bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 60 kilometer  perjam akibat padatnya perjalanan hingga sibolangit. Ada sekitar 15 orang yang ada dibus Raja Napogos dan kami 8 orang diantara mereka. Jadi penumpang lain jangan main-main dengan kami, kalau tidak anda tau akibatnya. Sepanjang perjalanan aku sedikit kesal. Supir selalu menaikan penumpang, walaupun dia tau sudah tidak ada tempat duduk lagi untuk mereka. Ini hanya untuk mengejar setoran dan akhirnya, kita disusun bagai ikan rebus. Tapi selama kita bisa sampai dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun ini tidak menjadi masalah. Perjalanan ini sedikit lama dan busnya juga  sedikit lambat. Hari sudah gelap dan hanya lampu rumah sepanjang jalan yang menemani suara musik pop bus ini. Selebihnya sangat membosankan dengan kaki pegal dan tak bisa digerakkan dan badanpun mulai gerah.  Perkiraan, kami diperjalanan hanya 3 - 4 jam saja. Diluar dugaan kami berangkat jam 6 dan sampai jam setengah dua belas malam. Baik, kita diperjalanan selama 5 setengah jam tanpa bisa berdiri atau berpindah dan aku yakin tidak hanya aku saja yang merasakan kakunya kaki dan badan selama perjalanan, mereka juga. Tapi ada satu hal yang membuat aku merasa was-was selama perjalanan. Sekitar 1 jam diperjalanan sebelum kami sampai ditujuan, udara dingin dan kabut pekat menutupi sepanjang sisa perjalanan kami. Kalau menurut cerita marti ini sudah biasa kalau perjalanan malam menuju Kecamatan Merek atau ke Kabupaten Sidikalang. Lebih jelasnya kabut pekat menutupi semua termasuk jalan, rumah dan pemandangan diluar. Bahkan banyak yg kecelakaan akibat tertutupnya pandangan supir selama perjalanan. Ada yang menabrak mobik lain, motor bahkan tak sedikit yg masuk jurang karena kabut ini. Ini sedikit horor, bagaimana bisa kita sedang dibus dengan kecepatan stabil dan tanpa ada kebakaran hutan terjadi kabut dan aku yakin supir juga hanya melihat 1-5 meter jalan saja dari depan. Sepanjang sisa perjalanan kami berdoa dan tidak lupa agar perjalanan kami ini diberikan keselamatan. Amin..

Setelah sampai di Kecamatan Merek, kami menagih janji marti perihal tempat tidur gratis. Kami ingin langsung istirahat dan merebahkan badan yang sudah berlipat delapan.

"Gengs kita jalan 100 meter lagi ya biar sampai di tempat istirahat kita". Pandu marti mengarahkan yg lain

Semua setuju, lumayan sambil jalan bisa merenggangkan badan yg kaku tak beraturan. Hanya Minimarket dan Pom Bensin saja yang buka, selebihnya semua rumah sudah terlihat sepi dan mematikan lampunya. Aku tidak takut, kan ada 8 orang pikirku

Posting Komentar

0 Komentar

5/random/slider

Temukan sesuatu disini

File Blog

Tentang Saya

Tentang Saya
Manusia biasa dan hanya Penikmat Kopi dengan sejuta rasa. Lebih baik hidup satu hari di surga daripada seribu tahun di dunia.

Recent Posts

3/random/post-list

Ad Code

Responsive Advertisement