Ad Code

Responsive Advertisement

Ada Cerita Di Bukit Gundul Part 1



"Kalau kalian ingin ikut, yaudah ayok. Jadi pria kok cemen". Kesalnya

Medan tidak hanya terkenal akan nikmatnya kuliner, namun juga indahnya tempat liburan jika hanya sekedar melancong. Aku beberapa kali singgah ke daerah lain, tak ada yg senikmat soto medan, mie gomak dan miesop jika berurusan dengan perut. Bukan hanya itu ikan teri nasi dan ikan asinnya juga menjadi primadona yg tiada tandinganya. Untuk urusan tempat wisata ada Istana Maimun, Mesjid Raya Medan , Museum Sumatera Utara, Kebun Binatang Medan, Pelabuhan Belawan, Museum Rahman, Velangkanni dan masih banyak lagi. Untuk budget masih sesuai kantong dan layak jadi rekomendasi liburan.

"Gimana nih, jadi atau enggak?. Aku udah biasa kesana kok, lagian gak ada yg perlu ditakutkan. Kita hanya bawa persiapan pakaian dan makanan aja, selebihnya uang transportasi". Tambahnya.

Aku tidak tahu apa yg dipikiran mereka. Memang benar tipe perempuan itu pemaksa, egois, ingin menang sendiri dan tidak memikirkan resiko. Lebih tepatnya indvidualis.

"Yaudah, ayok aku setuju. Gimana dengan yg lain mau apa enggak nih?". Jawabku sedikit kesal 

"Siapa takut, yg terpenting daerahnya gak ada cerita mistisnya aku mau ikut" sahut yg lain

"Baik, kita semua setuju untuk berangkat hari ini. Jangan ada yg tidak ikut, kami perempuan akan masak untuk bekal berangkat dan yg laki-laki bisa persiapan pakaian". Mengarahkan yg lain

Aku sebenarnya malas untuk urusan bepergian ke tempat baru. Bukannya takut, tapi lebih tepatnya lebih nyaman di kost menghabiskan waktu dengan menonton tv, menulis atau sekedar tidur cantik daripada bermain air di pantai atau mendaki gunung. Pertama, aku tidak memiliki perlengkapan outdoor dan yg kedua pada umumnya setelah berpergian badan capek, lelah dan lemas. 

Memang benar, wanita racun dunia. Hasutan dan godaanya membuat semua pria terpana dan terjebak rayuannya. Akhirnya, kami jadi berangkat.

Kami.. siapa kami? Mau kemana kami? dan siapa perempuan dan laki-laki itu?. 
Baik, aku akan menjelaskan dari awal. Hemm, bukan dari awal, lebih tepanya memperkenalkan diri di cerita ini.  Aku dan teman-temanku tinggal di daerah Kota Medan tepatnya kami mahasiswa semester tiga di universitas negeri "bergengsi" di daerah kami. Kata bergengsi ini sebenarnya hanya untuk orang awam atau tidak diterima di kampus kami, karna kata bergengsi cuman kami lah yg tahu sebenarnya. Baik, kita lanjut. Kami anak perantau dari daerah lain yg singgah untuk menuntut ilmu dan sudah pasti kost dan tinggal di Kota Medan. Aku, Diman, Feri, Bolus adalah laki-laki dicerita ini. Lalu siapa perempuanya, baik mereka adalah perempuan-perempuan barbar dan sumpah diluar dugaan. Nanti saya lanjutkan dicerita lebih dalam. Marti, Tantri, Yuni dan Risma adalah perempuan tangguh yang saya sebutkan tadi "perempuan egois". Sebenarnya yg paling parah ya dia, Marti. Dia yang merencanakan dari awal, memaksakan keinginanya dan akhirnya kami terhasut untuk jadi berangkat. 

Ini diluar dugaan, kami tidak ada rencana mengapa hanya ada 4 laki-laki dan 4 perempuan di cerita ini. Masih banyak teman lain yg memang tidak mau ikut karna berbagai urusan tak jelas. Ada yang jalan dengan gebetan, pulang kampung, sibuk tugas kuliah, belanja dll. Aku lebih memandangnya sebagai kode alam. Baik, kalian sudah mengenal siapa kami. Aku akan melanjutkan ceritanya.

Besok dan lusa hari libur kampus kami, iya hari sabtu dan minggu. Kami berencana untuk mendaki Bukit Gundul di daerah Kecamatan Merek Kabupaten Karo. Bukit ini tidak tinggi, lebih tepatnya hanya 1.900 Meter diatas permukaan laut. Ini sebenarnya bukan rencana kami, lebih tepatnya rencana dia, Marti perempuan yg saya ceritakan tadi. Jika diperhatikan, bukit ini terletak diantara Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun. Namun, dikarenakan jalannya hanya dari Kabupaten Karo banyak orang lebih tahu bukit ini di Kabupaten Karo. Berdasarkan cerita teman Marti, bukan dari dia karna dia juga belum pernah dari tempat ini, pemandangan bukit ini jika mengarah ke timur ada Danau Toba, selatan Air Terjun Sipiso-piso dan Gunung Sibuatan, Barat Gunung Sinabung dan Utara Kabupaten Simalungun. Indah bukan, ini hanya marketing Marti saja agar kami mau ikut rencananya.

Ini hari jum'at, seperti biasa jika sudah selesai kuliah kami kumpul di kontrakan perempuan barbar. Benar, Yuni, Marti, Tantri dan Risma mengontrak dan kontrakan mereka yg biasa kami buat basecamp walau hanya untuk cerita, ngumpul dan buang suntuk. Ukurannya cukup luas dan terpenting tidak ada membatasi hanya perempuan saja yg bisa masuk. Iya kontrakanya bebas dan nyaman. 

Hari ini cuaca cukup panas, untuk kipas dengan ukuran full saja tidak terasa menyambar di kulit. 

"Kita buat es yuk guys, kalian mau kan?". Ide Tantri seketika muncul 
"Ayok, ayok enak lah itu"... jawab Diman seketika
"Baik, tunggu ya kami belanja dulu ke warung depan". Jawab Marti
"Siap". Jawab serentak
"Uangnya mana guys?". Tanya Marti yang memang terkenal dengan hitung-hitungan hingga mengalahkan anak ekonomi dan matematika kampus
"PJ dulu mar, Pajolohon". Jawab Bolus sambil tertawa..

Es teh manis buatan perempuan in cukup handal, cuaca panas hari ini mulai beradaptasi dan bisa diajak berteman. Tak terasa semua pada sibuk, ada yang menghibah, main gitar dan semua sibuk dengan caranya. 

"Gengs kuy kita kemana, bosan tau kalau disini aja". Ajak Diman,  mengalihkan fokus
"Ayok, ke pasar baru aja atau ke dante cafe aja biar murah". Jawab Feri menambahi
"Jangan donk, gimana kalau kita ke Bukit Gundul guys?". Jawab Marti 
"Pemandanganya bagus, keren dan gak nyesal lah kalau kesana. Udah itu kita bisa ke Air Terjun Sipiso-piso juga loh". Tambahnya menjelaskan seperti marketing obat kuat di televisi. 
"Jauh ngak mar, kalau jauh aku gak mau. Apalagi kalau kita gak tau tempatnya, kan bahaya". Jawab Yuni sedikit menggerutu
"Iya loh mar, apalagi kalau daerahnya mistis dan serem gitu, ah aku gak mau lah ikut". Tambah Risma sedikit cemas
"Santai aja loh, bukit ini dekat kok hanya 4 jam perjalanan aja. Kalau aku pulang kampung, biasanya ku lewati kok daerahnya. Jadi gak usah takut kalian, pasti seru perjalanan ini. Jawabnya sedikit memaksakan
"Untuk tempat tidur, kita dimana mar?" Tanyaku sedikit bingung
"Gampang, disana ada kok tempat tidur kita. Aman dan gratis". Jawabnya meyakinkan kami

"Gimana, jadi ngak?, baik kita setuju". Jawab marti menutup percakapan siang ini.



Posting Komentar

0 Komentar

5/random/slider

Temukan sesuatu disini

File Blog

Tentang Saya

Tentang Saya
Manusia biasa dan hanya Penikmat Kopi dengan sejuta rasa. Lebih baik hidup satu hari di surga daripada seribu tahun di dunia.

Recent Posts

3/random/post-list

Ad Code

Responsive Advertisement