Ad Code

Responsive Advertisement

Polemik Go-Jek Vs Betor Di Kota Medan



Sekarang ini kita berada di era modren yang selalu terjalin dengan koneksi internet. Koneksi yang dengan jaringan tanpa batas selalu menjadi andalan bagi setiap manusia dari dan hendak kemana pun berpindah. Internet saat ini bukan hanya dipergunakan untuk media sosial dan saling bertegur sapa dengan orang yang ada di seluruh dunia. Namun perkembangan internet kini sudah masuk dan merambah dunia jasa transportasi publik. Begitupun dengan salah satu jasa transportasi ojek online yang sering disebut Gojek. Awalnya Gojek yang didirikan Nadiem Makariem hanya beropersi di Jakarta dan sekitarnya. Dengan memanfaatkan aplikasi berbasi Android yang menghubungkan antara penumpang dengan pengemudi (driver) Gojek. Penggunannya yang mudah dan murah membuat transportasi ini langsung banyak peminatnya. Hanya dengan memanfaatkan aplikasi yang di download di Playstore, pelanggan sudah bisa memanfaatkan pelayanan antar-jemput dengan transportasi ini. Selain itu keberadaan transportasi Gojek ini juga menjadi alternatif yang saat ini sangat banyak peminatnya.
 Setelah berhasil di Jabodetabek, Gojek melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di daerah lain seperti Makassar, Bali, Palembang, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kehadiran Gojek di Kota Medan bermula pada akhir bulan November 2015. Dengan berkantor di Komplek Jati Junction (dekat Universitas HKBP Nomensen). Pada awal penerimaannya, pelamar yang datang sangat berjibun dengan antrian yang sangat panjang. Dengan sangat antusias banyak dari pelamar yang rela berjam-jam agar bisa menjadi pengemudi (driver) berbasis aplikasi Android ini. Tak hanya sampai disitu saja, jasa transportasi online ini pun berhasil meningkatkan pelanggan di beberapa bulan ini.
Keberhasilan Gojek di Kota Medan ternyata menimbulkan polemik yang berujung  pergesekan diantara sesama penyedia jasa transportasi publik. Seperti yang kita ketahui belakangan ini pemberitaan media lokal dipenuhi dengan pro dan kontra yang terjadi antara sesama penyedia jasa. Mulai dari bentrok, perselisihan dan permasalahan  pelanggan serta beberapa permasalahan yang menyebabkan persaingan keduanya semakin memanas. Dimana hal ini cukup terlihat jelas jika penyedia jasa transportasi konvensional juga tampak kurang siap menghadapi perkembangan zaman. Hal ini diperkeruh dengan semakin banyaknya pengemudi Gojek di Kota Medan. Bahkan beberapa bulan ini saja pertikaian antara Gojek dan becak bermotor (betor) sudah terjadi lebih dari sepuluh kali.
Berdasarkan pemberitaan Analisadaily (Medan) pada Rabu, 22 Februari 2017 para penarik becak bermotor (betor) nyaris bentrok dengan pengemudi transportasi berbasis aplikasi online, Gojek, di kawasan Jalan Stasiun, tepatnya di Stasiun Kereta Api, Medan. Kejadian ini bermula ketika beberapa orang pengemudi Gojek mendatangi betor yang mangkal di depan stasiun. Kehadiran mereka untuk mempertanyakan soal rekan mereka yang diberhentikan ketika melintas di kawasan tersebut. Hingga akhirnya antara kedua belah pihak sempat cekcok sebelum puluhan personil kepolisian dari Polsek Medan Barat dan Polrestabes Medan turun untuk mengamankan. Selain itu pada Jumat, 26 Februari bertempat di kawasan kampus Universitas Sumatera Utara juga terjadi hal serupa. Tepatnya di Depan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik pada pukul 17:00, seorang pengemudi bentor harus mengalami sasaran pemukulan mahasiswa akibat melakukan penyerangan terhadap pelanggan dan pengemudi Gojek yang sedang bekerja mengantarkan pelanggan.  

Konflik Horizontal
Kejadian memanasnya persaingan antara sesama penyedia jasa baik itu konvensional maupun berbasis android sudah lama terjadi.  Hal ini tak hanya terjadi di Kota Medan. Bahkan di kota besar lebih dahulu merasakan hal serupa. Jakarta, Solo, Bandung dan beberapa kota lainya juga sempat bentrok dan sudah memakan korban. Bahkan di Solo pertikaian ini menyebabkan Gojek harus berhenti beroperasi.
Bentrok yang terjadi sebenarnya adalah kembali lagi ke masalah pelanggan. Berkurangnya pelanggan becak bermotor (betor) akibat berkembanya transportasi Gojek adalah hal utama. Keduanya sama-sama mencari nafkah dan perlu memenuhi kebutuhan namun jumlah pelanggan tak pernah bertambah. Ini sedikit sulit apalagi ditengah semakin banyaknya peyedia transportasi seperti angkutan umum, taxi,  becak bermotor (betor) dan yang terbaru yaitu ojek online (Gojek) yang berjamur di Kota Medan. Manusia perlu makan dan salah satu cara yaitu dengan bekerja.
Konflik yang terjadi ini sangat merugikan. Tak hanya kepada pengemudi penyedia transportasi, namun juga kepada pelanggan yang sangat membutuhkan transportasi umum untuk bisa berpergian. Bukan hanya pendapatan yang berkurang tapi hal ini juga telah menyita waktu dan materi para pengemudi penyedia jasa transportasi. Ditengah persaingan yang semain meningkat memang sangat sering terjadi pergesekan. Kebutuhan untuk sejengkal perut berakhir dengan pertikaian dan bentrok seperti yang terjadi di Stasiun Kereta Api Kota Medan.

Perlunya Kebijakan Dari Pemerintah Daerah
Kejadian yang sudah memakan korban ini harus cepat ditangani. Apabila dibiarkan, hal ini akan memakan korban lagi. Konflik horizontal seperti ini seharusnya tak perlu terjadi lagi. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Masalah perut sejengkal tak harus berakhir dengan korban di kemudian hari. Memang benar kebutuhan transportasi publik yang murah dan mudah sangat dibutuhkan. Terutama di Kota Medan yang semakin hari semakin padat dan macet. Selain sebagai alternatif yang sangat digemari para pelanggan, pemerintah juga harus memperhatikan keberadaan transportasi umum lain yang sudah lama ada di Kota Medan. Becak bermotor yang sudah menjadi ikon Kota Medan tidak boleh tergerus zaman di era teknologi. Perlu ada tanggapan yang serius dengan tidak merugikan kedua belah pihak. Selain itu keamanan perlu ditingkatkan agar tidak terjadi tindak kriminalitas yang berujung menambah masalah.
Pemerintah sebagai pemangku jabatan, perlu menertibkan masalah agar kejadian ini tak terulang lagi. Bila perlu ada regulasi yang jelas mengenai tarif, rute wilayah, dan kesiapan transportasi konvensi maupun online. Tujuannya jelas yaitu agar pelanggan dapat memanfaatkan transportasi umum tanpa harus khawatir. Selain itu para pengemudi tahu batasan-batasan yang bisa dilakukan. Bila perlu bila memang transportasi umum ini tidak layak pemerintah bisa menutup atau memberi sangsi yang jelas. 

Posting Komentar

0 Komentar

5/random/slider

Temukan sesuatu disini

File Blog

Tentang Saya

Tentang Saya
Manusia biasa dan hanya Penikmat Kopi dengan sejuta rasa. Lebih baik hidup satu hari di surga daripada seribu tahun di dunia.

Recent Posts

3/random/post-list

Ad Code

Responsive Advertisement