"Karena aku ingin bersamamu"
Malam itu memberikan satu isyarat bahwa musim penghujan akan datang untuk beberapa bulan kedepan. Hujan inilah yang diharapkan warga di desa kami, yang dominan bekerja sebagai petani. Dahaga haus tanaman terpuaskan dan merekah hingga ke akar tanaman.
Termasuk padi disawah itu kini sudah terobati oleh derasnya rintihan hujan diluar sana. Rintik-rintik air hujan itu jatuh dan mengalir deras diatas rumah yang terbuat dari seng hitam tua berkarat. Dindingnya terbuat dari bambu yang sudah dianyam dan lantainya terbuat dari tanah. Air memercik dari lubang seng yang mengalir dan membanjiri rumah yang seukuran petak dan kini airnya sudah membasahi seisi rumah kecil itu.
“yah, hujan tambah deras atap rumah kita banyak yang bocor. Ibu takut kita kenapa-napa di dalam rumah ini.” Sambil sibuk memeras air yang sudah membasahi bagian rumah sebelah dapur itu. Dapur begitu kotor dan becek sebab air bercampur dengan lantai tanah.
“sudah bu gak usah takut, sebentar lagi hujannya akan redah kok, ibu gak usah khawatir kan ada ayah disini.” Sambil memperbaiki atap seng yang sedari tadi membasahi rumah akibat bocor.
“ibu..ibu.. ayah.. Risa takut hujan. Rengek perempuan kecil menghampiri ibu yang dari tadi memperhatikan kedua orang tuanya sibuk dengan kerjanya masing-masing.”
“jangan takut nak, sudah sana kamu balik ke tempat tidur kamu, ibu lagi sibuk membersihkan lantai, Nanti kamu basah lagi. Anak kecil itu mengerutkan wajahnya agar orang tuanya jangan hanya sibuk dengan pekerjaan.
Lelaki itu hanya bisa termenung melihat keadaan keluarganya yang serba kekurangan. Terkadang dia meneteskan air mata jika memikirkan semua masalah yang selalu menerpannya. Seakan menjadi kepala keluarga yang tak pantas dan hal itu selalu mengitari pikirannya malam itu. Hujan sederas itu tidak akan cepat redah dan malam itu dan seakan panjang buat keluarga yang baru dikaruniai satu anak itu.
Tempat tinggal yang kecil dan atap yang sudah banyak yang bocor membuat mereka seakan kerja keras dengan air yang selalu turun dari seng yang sudah tidak layak pakai itu. Lelaki itu bernama inson dan perempuan itu bernama harta. Mereka baru saja menikah sekitar tiga tahun yang lalu tanpa ada acara adat seperti tetangga lain yang mengadakan pesta besar-besaran untuk perkawinan mereka. Hal itu patut disyukuri, walau terkadang ada niat untuk membuat acara adat layaknya pasangan suami istri di kampung itu jika sudah ada rezeki.
Mereka masih bersyukur karena mereka masih diberikan tempat tinggal oleh keluarganya yang kini telah pergi jauh merantau. Rumah ini lah, satu-satunya harta yang kini mereka miliki. Memang apabila dibandingkan dengan rumah tetangga, rumah ini sudah tidak layak pakai. Namun apa daya, keluarga kecil dengan keuangan yang minim tak akan mampu untuk bisa membangun rumah sama seperti tetangga lainnya. Bahkan banyak dari tetangga lain yang berbela sungkawa memberikan sesuatu kepada keluarga mereka karena prihatin dengan keadaan keluarga mereka.
Pagi itu seakan berat bagi keluarga baru ini, hujan deras tadi malam seakan membuat mereka enggan untuk bangun dari tempat tidur yang tidak bertilam itu. Udara dingin dan hembusan angin seakan masih menusuk ke seluruh tubuh dan sedikit malas untuk melepaskan selimut dari pelukan. Memang pagi ini adalah hari libur, waktu luang ini dimanfaatkan keluarga kecil ini untuk istrahat lebih lama dari sebelumnya akibat persoalan tadi malam.
Tok!!! Tok!! Tok!!!
(ketuk seseorang dari luar rumah)
“Pak risa, ini bapak RT, mau ada yang diomongi”.
“Bentar Pak, saya buka pintunya. Jawab inson sedikit berat.
Ada apa ya pak, kok sepagi ini udah datang?.” Tanya inson sambil mengucek kedua matanya seakan kelelahan pagi itu.
“Oh begini pak, desa kita kan mengadakan gotong royong untuk membersihkan saluran irigasi sawah. Jadi saya mau menanyak ketersediaan bapak untuk ikut berpartisipasi nanti sore pada pukul 15:00 pak. Ini untuk kelancaran parit dan kebaikan tanaman padi kita pak. Apa bapak bisa ikut nanti sore?.”
“oh bisa pak, untuk kebaikan kita bersama mengapa tidak pak”.
“oh baiklah pak, kalau begitu saya pergi dulu ya pak, masih banyak warga yang masih mau di jumpahi dan ditanya ketersediannya”.
“oh baiklah pak”.
Sambil membuka pintu dan jendela yang berjumlah dua itu, lelaki itu pergi bergegas ke dapur yang berukuran kecil untuk memberi makan sepasang ayam pemberian mertuanya dari desa lain untuk mereka rawat agar bisa memberikan penghasilan tambahan kelak. Ayam ini lah salah satu harapan inson kedepan agar bisa bertelor dan beranak sehingga kelak bisa memberikan tambahan dan dapat menyekolahkan anak perempuan nya yang kini sudah berumur tiga tahun itu. Ah masih terlalu cepat untuk pergi menderes tuak (aren), sahutnya dalam hati. Memang pendidikan yang hanya tamat sekolah dasar dan tak memiliki keterampilan itulah yang membuat inson sulit mencari pekerjaan. Dengan hanya memperhatikan tetangganya yang sering menderes tuak dan dia membuat itu menjadi pekerjaanya sekarang.
Terkadang inson hanya bisa termenung bila mengingat masa kecil dan masa mudanya yang tak bisa mengecam bangku sekolah, karena harus membantu ibu dan adik-adiknya yang masih kecil kala itu. Bilamanapun dia mengingat masa mudanya yang hanya bekerja dan terus bekerja demi bisa menyekolahkan adik-adiknya. Itu hanya menambah kesedihannya saja. Dalam hati inson kala itu, biarlah adik-adiknya yang sekolah dan menimba ilmu setinggi-tingginya. Toh bila dia juga sekolah, siapa lagi yang akan membantu ibunya yang tinggal sebatang kara dikarenakan ayahnya meninggal ketika adiknya yang paling kecil baru melahirkan.
Lamunannya semakin lama semakin dalam. Inson tak tahu mengapa tuhan memberikan cobaan yang besar ini bagi keluarganya. Ibarat jatuh dan diapun harus ketimpa tangga pula. Tapi hanya satu yang ada di pikiran nya kala itu, bisa menyekolahkan anak-anaknya agar tidak sama seperti dirinya kelak.
Matahari sudah semakin menunjukkan sinarnya. Pagi itu seperti biasa, inson berangkat pergi ke ladang untuk menderes tuak (aren) yang dia miliki. Kalau di daerahnya tuak adalah minuman yang hampir sama dengan alkohol. Namun bedanya kalau tuak terbuat dari nira yang sudah dicampur dengan kulit raru yang pahit hingga menciptakan rasa yang dapat menghangatkan badan yang sedang kedinginan dan alkohol terbuat dari buah anggur yang sudah di fermentasi sebelumnya.
Langkah kecil inson semakin mendekati pohon aren dengan tinggi 10 meter itu. memang pohon tuak (aren) miliknya tidak lah jauh dari rumah kecilnya, hanya sekitar dua ratus meter. Biasanya satu malam, jeregen sudah hampir penuh dan sudah bisa di jual ke warung. Pohon tuak (aren) itu biasanya dibuat tangga yang diberi lubang di setiap bilahnya agar si pemilik bisa menaiki pohon tuak dengan nyaman. Tapi tak seperti biasa nya, tuak yang dia tampung semalam di dalam jeregen biasanya sudah penuh, Kini hanya kosong dan tak berisi. Air tuak (nira) yang satu malaman di tampung ternyata tumpah ke tanah akibat hujan deras yang membasahi desa itu tadi malam.
Hati inson pun sedih melihat tuak (nira) yang biasanya dijual untuk kebutuhan sehari-hari, kini sudah tak bisa diambil. Semua airnya sudah tumpah dan hanya tinggal jeregen kosong. Inson hanya bisa sabar dengan keadaanya hari itu. hari itu kehidupanya dipenuhi kesialan. Tidak hanya rumah saja yang bocor, kini air tuak juga tidak menghasilkan sedikirpun. Dia kembali memperbaiki dan kembali ke rumah dengan tidak membawa setetespun tuak (nira) dengan hati sabar.

0 Komentar